Hayy..Welcome to My Blog...

Selasa, 07 Juni 2011

7. "Entrepreneurship" Terbukti Mengubah Masa Depan

KOMPAS.com - Tahun 2001, ketika lepas usia 70 tahun, saya membandingkan dan menganalisa kenapa bangsa Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Tahun 1960-an tidak banyak perbedaan antara Indonesia, Malaysia, dan Singapura. Sekarang kita-saat GDP per kapita kita 2.300 dollar AS, Malaysia sudah mencapai 8.118 dollar AS, dan Singapura sudah mencapai 38.972 dollar AS. Kita ketinggalan jauh, bukan? Setelah 65 tahun Indonesia merdeka, saya melihat masalah pengangguran dan kemiskinan masih belum terpecahkan secara memuaskan.


Puncak dari refleksi saya akhirnya mengerucut pada kata entrepreneurship ketika entrepreneurship saya nyatakan sebagai "kesanggupan mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas". Dalam konsepsi saya seorang entrepreneur bukan hanya mampu menciptakan kerja bagi diri sendiri saja, namun ia juga mampu melakukan perubahan yang dramatis dan kreatif (kotoran dan rongsokan jadi emas), menghasilkan produk akhir yang disambut pasar (seperti emas) dan mampu melipatgandakan sumber-sumber daya yang ia miliki. Itulah yang sesungguhnya terjadi dalam diri saya sendiri, itulah strategi kehidupan yang saya jalani tanpa saya sadari.

Berita harian Kompas tanggal 18 Agustus 2010 dengan judul China Resmi Salip Jepang memperkuat keyakinan saya. Selama 30 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi China berhasil mencengangkan dunia sehingga akhirnya pada tahun 2010, China berhasil mengungguli PDB Jepang dan dinobatkan jadi negara adi daya ekonomi nomor 2 di dunia setelah Amerika Serikat. Padahal 5 tahun yang lalu PDB China baru mencapai angka 2.3 triliun dollar AS atau sekitar separuh dari PDB Jepang.

Kemajuan ekonomi yang luar biasa dari China adalah karena begitu banyak entrepreneur yang melakukan kiprah inovasi di negara-negara tersebut. Semakin banyak entrepreneur dimiliki oleh sebuah negara akan semakin makmur negara tersebut. Menciptakan sebanyak mungkin entrepreneur di suatu negara jelas memiliki kaitan dengan kesejahteraan bangsa tersebut, setidaknya terdapat 4 alasan:

- Solusi bagi dirinya sendiri, karena mereka tidak perlu jadi penganggur, mereka adalah pencipta kerja bagi dirinya sendiri.
- Solusi bagi sesamanya, karena dari pekerjaannya, mereka menciptakan pekerjaan bagi orang lain.
- Solusi bagi komunitasnya, karena dari daya inovasinya ia akan mengubah kekayaan alam dan budaya Indonesia menjadi produk yang dibutuhkan dunia.
- Solusi bagi negara, karena dari hasil karya para entrepreneur, beragam pajak dapat dipungut untuk membiayai pemerintahan dan kelangsungan pembangunan.

Adalah sangat mengkhawatirkan bagi masa depan bangsa bila kita gagal menciptakan para entrepreneur pencipta kerja yang mampu mengubah kotoran dan rongsokan menjadi emas. Harapan kita, di masa depan bertumpu pada para innovative entrepreneur Indonesia yang sekarang masih berada di bangku-bangku sekolah kita. Mereka harus kita persiapkan jadi entrepreneur baru untuk kesejahteraan Indonesia di masa depan.

Sekarang tiba saatnya untuk membangkitkan kembali semangat dan kecakapan innovative entrepreneurship untuk menghasilkan jutaan entrepreneur baru bagi bangsa. Saya percaya melalui sebuah transformasi yang terencana 25 tahun ke muka maka setidaknya 4 juta entrepreneur baru akan tercipta. Itulah doa saya, itulah misi hidup saya, itulah juga harapan saya.

DR. Ir. Ciputra
Pendiri UCEC (Universitas Ciputra Entrepreneurship Centre)
Jl. Satrio Kav. 6, Jakarta 11520
T. 021-520 7333
www.ciputra.org
6. Entrepreneur Harus Terus Mengikuti "Coaching"

GramediaShop : Stegosaurus
Senin, 15/11/2010 | 16:43 WIB

KOMPAS.com - Jika semangat mengembangkan wirausaha adalah pemberdayaan, seharusnya para entrepreneur diberikan pembekalan untuk penguatan personal, pengembangan diri, membangun motivasi dan inovasi, yang bisa melahirkan ide kreatif untuk menularkan kewirausahaannya kepada orang lain.




Menurut psikolog Tika Bisono, para entrepreneur yang berhasil dengan usahanya, termasuk yang mendapatkan penghargaan atau memenangkan berbagai kompetisi wirausaha, bisa menularkan keberhasilannya kepada orang lain. Caranya, wirausahawan berpotensi harus dilibatkan dalam kegiatan seminar dan juga monitoring atau pelaporan kegiatan usaha untuk menjaga keberlangsungan usaha. Jika kegiatan hanya berakhir pada seleksi wirausahawan terbaik lalu pemberian hadiah saja, misi pemberdayaan tak terwujud, tegas Tika.

"Mereka yang berhasil berpotensi membangun pemenang-pemenang wirausaha lainnya. Untuk bisa menjalankan peran ini, wirausahawan perlu mendapatkan pembekalan seputar motivasi, inovasi, energi untuk mengubah keadaan, pengembangan diri, mengetahui kekuatan dan kelemahan diri, hingga kemampuan membuat blue print untuk usahanya. Ini semua adalah ranah psikologi. Bentuknya berupa coaching dan consulting," jelas Tika usai penganugerahan Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA) 2010, di Hotel Millenium, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Wirausahawan, terutama bagi pemula, masih membutuhkan dukungan termasuk keberanian untuk mengubah keadaan. Dengan terbukanya ruang konsultasi melalui lokakarya dari berbagai aspek, wirausahawan lebih terdorong dan terbuka pikirannya untuk membuat perubahan.

Tika mencontohkan, dari pembicaraan dan konseling singkat bersama finalis CMA 2010, didapatinya inovasi ide yang cerdik dalam mengembangkan usaha, yakni memberdayakan korban bencana untuk berwirausaha. Inilah pentingnya konsultasi dan coaching bagi para pengusaha mikro, yaitu melahirkan ide baru yang segar dan memberdayakan.

"Daerah bencana (Merapi-RED) bisa menjadi ruang pemberdayaan bagi pengusaha mikro yang berada tak jauh dari sana. Mereka yang sudah berhasil bisa membangun kewirausahaan dari apapun yang tersisa di lokasi bencana. Mereka bisa mengajak korban bencana untuk bangkit dan mandiri. Karena pengalaman mereka sudah membuktikan itu, bahwa usaha yang kini berhasil dibangun dari material yang ada di lingkungan mereka, barang murah, barang bekas, barang sisa yang ada di sekitarnya. Di sisi lain, para pengusaha yang sudah berhasil ini nantinya bisa membangun line business bersama para pengusaha baru yang dibinanya," tutur Tika.
5. Entrepreneurship by Revenge
Posted by Jimmy on March 27, 2008

Wirausahawan karena dendam begitulah kira-kira kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Kok bisnis dihubungkan dengan dendam? Mungkin kira-kira seperti itu pertanyaan yang akan muncul. Padahal idealnya kalau melakukan suatu usaha atau bisnis sebaiknya dipicu oleh sesuatu yang sifatnya lebih baik ketimbang dendam.

Sebenarnya dendam itu sendiri dapat dilihat dari dua sisi yakni bisa berakibat negatif misalnya kita akan melakukan penyerangan secara fisik kepada orang yang telah menyakiti hati kita. Atau dapat berakibat positif yakni dengan cara kita menggunakan rasa “sakit hati” kita menjadi suatu energi yang membangun untuk diri kita.

Dendam yang saya maksudkan disini adalah dendam yang berakibat “positif” yakni yang akan menghasilkan suatu output yang positif untuk diri kita. Dalam hal ini banyak contoh yang dapat kita ingat. Kalau anda pernah mendengar kisah Lee Iacocca dimana dia sebelumnya bekerja di Ford Motor Company lalu diberhentikan oleh Henry Ford. Namun Lee melakukan “balas dendam” dengan bergabung pada perusahaan Chrysler yang pada saat itu akan bangkrut dan menyatakan tekadnya untuk membangun perusahaan ini untuk membuktikan kepada eks-bosnya bahwa Henry Ford telah salah memecat dia. Juga Steve Jobs yang diminta untuk mengundurkan diri sebagai dewan direksi dan hanya sebagai pemegang saham dari Apple dan pada saat ia kembali ke jajaran direksi Apple, Steve membuktikan dendamnya dengan membesarkan nama Apple lewat produk iPods dan iMac. Dinegeri kita sendiri kita punya Helmy Yahya yang diminta mengundurkan diri dari Ani Sumadi Production. Ternyata setelah melakukan usahanya sendiri dan mendirikan PT. Triwarsana, Helmy Yahya membuktikan kepada kita semua bahwa dengan ide-idenya untuk menciptakan berbagai kuis, Helmy Yahya telah sukses membalaskan “dendam”nya dengan cara yang positif.

Disaat perekonomian dunia sedang menurun seperti sekarang ini dimana mungkin ada perusahaan yang harus melakukan pengurangan jumlah pegawai, hendaknya rasa “dendam” karena terkena PHK dapat memberikan semangat yang positif untuk lebih maju dan membuktikan diri bahwa kita bisa menjadi lebih baik dengan menjadi wirausahawan dibandingkan ketika masih menjadi karyawan.
4. ENTREPRENEUR UNIVERSITY

Oleh Abdul Halim Fathani
(Pemerhati Pendidikan, Tinggal di Kota Malang)

SELAMA ini, perekonomian bangsa hanya “diserahkan” pada sekelompok orang sehingga membuat perekonomian gampang ambruk. Hal ini sama dengan “menyerahkan nasib” bangsa pada sekelompok orang. Ketergantungan seperti ini akan menempatkan mereka pada posisi ‘dewa penolong’. Kalau dewa tersebut lagi baik nasibnya, maka selamatlah bangsa ini. Tapi, ketika nasibnya buruk, rusaklah nasib bangsa. Ini berbeda kalau perekonomian ditopang oleh banyak pilar. Kalau terjadi kebangkrutan pada beberapa pengusaha, masih banyak yang akan menggerakkan kehidupan perekonomian.

Di lain pihak, mereka adalah kelompok orang yang sangat patut diragukan rasa kebangsaannya. Buktinya, seperti dilansir beberapa media masa, para konglomerat jahat tersebut beramai-ramai melarikan uangnya ke luar negeri begitu negara ini mengalami krisis (ingat peristiwa 1998). Sementara, pendidikan kita selama ini hanya berorientasi pada meluluskan generasi muda yang “siap pakai”, dalam arti mempersiapkan tenaga-tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan segelintir pengusaha di atas, selain untuk menjadi pegawai negeri.

Ini berarti sebagian besar anak bangsa ini telah disiapkan untuk menjadi buruh, baik buruh swasta maupun buruh negara bahkan banyak yang berprofesi sebagai pengangguran. Sebagaimana yang dilansir Kompas (27/9/10) bahwa Kementerian Pendidikan Nasional mencatat sedikitnya dua juta lulusan perguruan tinggi dengan aneka jenjang menjadi penganggur dari 14 juta sarjana yang telah lulus.

Melihat fakta di atas, tak mengherankan kalau tugas pendidikan hanyalah sekadar menyiapkan “robot-robot hidup yang terampil”. Yang kelak akan dipakai untuk melayani mesin-mesin industri. Untuk kebutuhan ini, perguruan tinggi tidak terlalu dituntut untuk mendorong keberanian dan kreativitas anak didik. Perguruan tinggi cukup hanya mencetak individu manusia terampil, meski kurang kreatif, penurut alias tidak banyak tuntutan, tak peduli lingkungan sekitar, tidak memiliki kemandirian alias bergantung pada perintah, dan watak-watak lain yang serupa.

Dari kesadaran untuk memperbanyak pilar-pilar perekonomian bangsa, maka model pengembangan entrepreneurship di dunia pendidikan, termasuk perguruan tinggi merupakan suatu keniscayaan. Pendidikan dituntut untuk mampu melahirkan individu-individu yang memiliki kreativitas, berani, dan mampu belajar sepanjang hayat. Dengan tumbuhnya jiwa wirausaha pada generasi muda, mereka tidak lagi terfokus menjadi generasi pencari kerja semata yang justru menghasilkan banyak pengangguran terdidik. Pendidikan entrepreneurship memberi bekal agar generasi muda menjadi kreatif melihat peluang berusaha dari kondisi-kondisi yang ada serta menemukan cara untuk bisa memasarkan dan mengembangkan peluang usaha.

Bangsa Indonesia perlu melakukan lompatan kuantum untuk menanggulangi masalah pengangguran dan kemiskinan dengan menerapkan pendidikan entrepreneurship di semua jenjang. Dengan demikian, di Indonesia akan lahir generasi pencipta kerja, bukan pencari kerja, sehingga kemakmuran Indonesia yang kaya-raya dengan sumber daya alamnya bisa terwujud.

Di Jawa Timur, contoh pengembangan model entrepreneurship di dunia pendidikan telah dipraktikkan di Universitas Ciputra (UC) Surabaya. Hampir seluruh dari 145 lulusan angkatan pertama UC Surabaya sudah bekerja sebelum lulus. Menurut Ciputra (pendiri UC), model pendidikan yang terapkan di UC Surabaya tak hanya bertujuan mendapat ijazah saja. Proses pendidikan sesungguhnya bertujuan menekankan kepribadian dan sikap wirausaha. Ijazah sebenarnya bukan kertas cantik yang didapat hari ini. Ijazah yang paling berharga adalah perubahan mindset, karakter, budaya, kecakapan, dan pemahaman entrepreneurship. (Kompas, 27/9/10)

Di sisi lain, yang perlu diperhatikan adalah lulusan perguruan tinggi perlu memiliki mental entrepreneur di bidang pengembangan keilmuan sesuai bidangnya. Meski sudah lulus, mental sebagai pebelajar sejati (belajar sepanjang hayat) harus terus tertanam dalam individunya. Inilah yang penulis sebut dengan entrepreneur plus. Ialah, selalu melakukan terobosan baru di bidang pekerjaan dalam rangka menuju kemandirian bangsa sekaligus selalu melakukan pengembangan keilmuan dan keprofesionalannya sesuai dengan keahlian masing-masing.

Yang tak kalah pentingnya, model pengembangan entrepreneur plus ini harus dijauhkan dari hal-hal yang berbau formalitas dan administrasi-birokratis. Lulusan perguruan tinggi harus diberi kebebasan bekerja dan kebebasan akademik sesuai dengan relnya masing-masing. Oleh karenanya, entrepreneur plus sudah seyogianya menjadi perhatian banyak kalangan, baik pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat umum. Harapannya, pengangguran akademik dapat diminimalisir dan kemandirian bangsa tidak lama akan dapat diwujudkan di negeri tercinta Indonesia.Sudah saatnya Indonesia memiliki sebagian besar generasi muda dengan pola pikir, karakter, dan kecakapan entrepreneur. Semoga!
3. Tips Membangun Jiwa Usaha Entrepreneur


1. Sugesti diri pribadi.
Berkatalah selalu "aku bisa... aku bisa..!!" sekuat dan sekencang mungkin, apalagi ketika kita berada pada kondisi ketakutan dan ketidakmampuan. Sugesti ini akan menimbulkan energi positif dalam pribadi dan membuat kita menjadi berpikir positif dan berani menghadapi tantangan. Akan lebih baik lagi jika teriakan ini diikuti oleh gesture tubuh yang menunjang. Seperti, dada dibusungkan, kaki berdiri lurus, tangan mengepal ke udara, dan segala sesuatu yang membuat kita lebih nyaman dan lebih bersemangat.

2. Berkumpullah bersama pengusaha untuk mengatahui seperti apa dunia kewirausahaan itu.
Tak kenal maka tak tahu, tak tahu maka tak sayang. Ungkapan ini tepat untuk menggambarkan tips yang dijelaskan di atas. Dengan berkumpul dengan pengusaha website murah, maka kita akan tahu seperti apa dunia usaha yang sebenarnya, sehingga argumen2 yang menggejolak di dalam diri kita akan terkoreksi ketika mengetahui seperti apa dunia wirausaha yang sebenarnya.

3. Kalau belum berani mengeluarkan modal untuk memulai berwirausaha, kenapa tidak mencoba menghilangkan ketakutan itu??
Kebanyakan orang takut berwirausaha karena mereka takut uang mereka akan menjadi miskin, atau mereka akan dijerat mafia dunia bisnis, atau waktu mereka akan banyak tersita, dan alasan2 lainnya. Bagaimana jika kita berhasil mengalahkan ketakutan yang lebih mengerikan dibanding ketakutan yang muncul ketika berwirausaha? Sebagai contoh, jika kita takut kehilangan uang, apa yang membuat kita lebih takut dibanding kehilangan uang? Mungkin reputasi? atau istri? Mungkin nyawa? Bagaimana jika kita mengatasi ketakutan2 itu dulu? Seandainya kita lebih takut kehilangan reputasi ketimbang kehilangan uang. Lakukanlah hal2 yang membuat kita beresiko kehilangan reputasi, seperti berperilaku bagai orang gila. Seandainya perasaan kita tidak merasa takut setelah melakukan hal tersebut, maka tentu kita tak akan takut lagi kehilangan??

4. Perbanyak bahan referensi entrepreneurship.
Agar kita lebih yakin untuk melangkah, kita butuh buku panduan . Dengan buku panduan, selain kita lebih yakin, kita juga menjadi lebih berani dalam mengambil keputusan dalam dunia usaha kosmetik wajah. Ketakutan kita juga akan semakin berkurang dikarenakan kita telah menguasai buku panduan kita dalam mengarungi samudera entrepreneurship.

5. Jangan cuma diam dan membaca, Lakukan sekarang!!
Ada pepatah yang bilang, seseorang pasti bisa kalau dipaksa. Sebenarnya segala ketakutan anda mengenai dunia usaha perlahan pasti akan luntur seandainya anda langsung mencoba terjun untuk berwirausaha cth menjadi penerbit majalah. Perlahan tapi pasti anda akan mengerti bagaimana cara me-manage segala ketakutan dalam dunia usaha sehingga kita lebih berani.
Masih takut ber-wirausaha??

Dukung kampanye stop dreaming start action


http://fariddjunks.blogspot.com
2. [Artikel] Ciputra: Semua Orang Bisa Jadi Entrepreneur
CE News, Jakarta: Ratusan mahasiswa Universitas Islam As-Syafi'iyah Jakarta menyambut meriah kedatangan pendiri Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC), Dr. Ir. Ciputra di Auditorium Utama Gedung Alawiyah, Pondok Gede, Jakarta Timur. Dalam kesempatan itu, Pak Ci menjadi pembicara dalam Studium Generale Kewirausahaan.

Pak Ci mengungkapkan saat ini diperlukan semangat entrepreneurship untuk membuat rakyat Indonesia sejahtera. "Dengan entrepreneurship akan merubah nasib sebuah bangsa, ujarnya disambut tepuk tangan mahasiswa yang memadati auditorium tersebut.

Menurut Pak Ci, diperlukan sedikitnya 2 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang menjadi entrepreneur untuk membuat Tanah Air sejahtera. Saat ini, Indonesia hanya memiliki entrepreneur sebanyak 0,18 persen. "Impian saya, dalam 25 tahun mendatang tercipta 4 juta entrepreneur baru," kata Pak Ci.

Untuk itu, Pak Ci selalu berusaha menyebarkan semangat entrepreneurship di setiap kesempatan. Pak Ci mengharapkan entrepreneur-entrepreneur masa depan tidak hanya berasal dari mereka yang berasal dari keluarga entrepreneur. "Anak petani, nelayan, PNS, dan lain sebagainya dari Sabang sampai Merauke harus bisa jadi entrepreneur. Semua orang bisa jadi entrepreneur," katanya.

Sementara itu, Presiden UCEC Antonius Tanan mengatakan entrepreneur dapat dibentuk dari 3L yakni, lahir, lingkungan, dan latihan. Oleh sebab itu, perlu ditumbuhkan semangat menjadi pencipta kerja di kalangan mahasiswa dan masyarakat pada umumnya.

Antonius mengatakan, saat ini jumlah pengangguran yang berpendidikan sarjana di Indonesia telah mencapai 2 juta orang. Sehingga entrepreneurship merupakan jawaban tepat bagi masalah tersebut.

Pihak Universitas Islam As-Syafi'iyah menyambut baik kesediaan Pak Ci menjadi pembicara dalam kesempatan tersebut. Rektor Universitas Islam As-Syafi'iyah, Prof,. DR. Hj. Tutty Alawiyah meminta Pak Ci untuk tetap bersedia menjadi pembicara di lain kesempatan. "Saya harap Pak Ci tidak hanya sekali ini menjadi pembicara. Kami sangat senang jika Pak Ci berrkenan membagi ilmunya kepada kami, katanya.

Dalam kesempatan itu, Universitas Islam As-Syafi'iyah memberikan cinderamata kepada Pak Ci. Seusai acara, Pak Ci mendapat sambutan yang luar biasa. Mahasiswa-masiswa yang hadir dalam acara tersebut berebut untuk foto bersama Pak Ci.

Sumber: Ciputra Entreprenurship

Senin, 06 Juni 2011

B. ARTIKEL TENTANG PENDIDIKAN

1. Bagaimana Menerjuni Dunia Entrepreneur
Penulis : Ikhwan Sopa
Selasa, 07-Oktober-2008
Apakah Anda mau dan ingin menerjuni dunia bisnis, sekarang atau nanti? Jawabnya harus mau dan ingin. Sepertinya jawaban itu cukup memaksa Anda untuk mulai memikirkan tentang fenomena berikut ini.

Jika Anda bekerja pada orang lain, adalah baik jika Anda mempertimbangkan untuk terus meniti karir sampai ke puncak. Tapi sebagai pekerja, Anda juga pasti akan pensiun.

Jika Anda mengikuti pola dan alur pensiun yang normal dan alamiah, maka ketahuilah bahwa saat Anda pensiun, Anda juga pada dasarnya pensiun dari semua pemberi kerja, bukan hanya dari pemberi kerja Anda saat ini. Terlebih lagi, jika pola "normal" dan "alamiah" itu erat kaitannya dengan usia produktif.

Akan cukup sulit bagi Anda, setelah pensiun di usia 30, 40, atau bahkan 50 tahun, menemukan pemberi kerja yang mau mempekerjakan Anda. Dan sangat mungkin, Anda sendiri pun akan bosan dengan lagi-lagi bekerja untuk orang lain.

Apa yang pasti adalah; Anda jelas tak ingin setelah pensiun langsung mati. Sisa usia Anda mungkin masih 10, 20, atau malah 50 tahun juga.

Jadi, mau tidak mau, ingin tak ingin, Anda juga harus mulai berpikir tentang menerjuni dunia entrepreneur, baik sesegera mungkin atau segera setelah Anda pensiun.

Di Workshop E.D.A.N. kemarin, saya sempat berdiskusi ringan dengan salah seorang peserta yang menjadi founder, moderator, dan pembina di sebuah komunitas entrepreneurship. Dari diskusi itu, beberapa pelajaran bisa ditarik berkaitan dengan apa dan bagaimana seseorang bisa menerjuni dunia entrepreneur.

Saya kemudian mencoba memikirkannya sedikit lebih dalam, dan berikut inilah yang bisa saya temukan tentang tipe-tipe entrepreneur yang memulai dunia entrepreneurshipnya.

Early Birds

Inilah tipe entrepreneur yang sejak awal telah memproyeksikan dirinya menjadi entrepreneur. Mereka telah mempertimbangkan dunia entrepreneur sejak mereka masih di bangku sekolah. Bagaimanapun situasi dan keadaan sekolah mereka, cita-cita mereka setelah lulus adalah menjadi entrepreneur.

Mereka mungkin sudah mulai berbisnis sejak di sekolah. Atau mereka secara mandiri mempelajari dunia entrepreneurship.

Maka bagi mereka, siap tidak siap nantinya setelah selesai bersekolah, mereka tidak ingin bekerja pada orang lain, tapi sebaliknya berkeinginan besar menjadi pemberi kerja.

Beberapa dari mereka, bahkan tidak sempat menyelesaikan sekolahnya karena kesibukannya berbisnis.

Secara pribadi, saya sangat mengidam-idamkan keadaan di mana anak-anak Indonesia, sudah mulai diperkenalkan dengan dunia entrepreneurship sejak masih SMP atau SMU.

Alangkah bagusnya jika di SMP atau SMU, kita bisa melihat keberadaan radio sekolah, televisi sekolah, koran sekolah, majalah sekolah, koperasi sekolah, atau divisi bisnis sekolah, yang dikelola dengan profesional oleh anak-anak muda berusia belasan tahun.

Smooth Lander

Mereka adalah para profesional yang terus mengasah kemampuannya, sembari meniti karir ke jenjang yang setinggi-tingginya. Mereka menantikan peluang emas di mana para pemodal mau memberi mereka kesempatan untuk menjalankan sebuah bisnis.

Fenomena yang paling umum terjadi adalah pemupukan sumber daya dalam bentuk tabungan dan investasi yang menghasilkan berbagai macam passive income. Kita mengenal mereka sebagai orang-orang yang akrab dengan tantenya yaitu "Bude Ros".

Amphibi

Mereka adalah para profesional muda yang penuh dengan semangat, tapi cukup berhati-hati dalam menjalani petualangan bisnis.

Segera setelah memungkinkan, setelah berbagai kebutuhan dasar terpenuhi, mereka mulai melakukan berbagai bentuk gerilya. Mulai dari yang kurang mulus seperti ngobyek atau mencuri waktu dan kesempatan, atau yang cukup elegan dengan mulai membangun bisnis rumahan, bisnis online, atau bisnis jaringan.

Mereka mungkin membiayai keluarganya untuk mengoperasikan sebuah bisnis pemula. Mereka juga mungkin membuka kios atau memanfaatkan garasi rumahnya. Mereka juga mungkin membangun aliansi dengan teman sekerja, mendirikan perusahaan baru yang belum diterjuninya secara total.

Mereka akan segera menerjuni bisnis secara total, manakala berbagai parameter dan persyaratan pribadi mereka dianggap sudah terpenuhi. Misalnya punya cadangan yang setara dengan dua tahun gaji mereka selama ini, atau sudah punya sumber lain yang ajeg dan tetap, dan sebagainya.

Free Diver

Yang ini adalah benar-benar petualang. Mereka tak terlalu peduli tentang keamanan posisi cadangan dan sumber daya. Mereka benar-benar mengandalkan impian dan kekuatan kemauan. Mereka hanya tahu satu hal, yaitu keinginan, cita-cita, atau obsesi dan idealisme mereka.

Ships Burner

Mereka adalah orang-orang yang sejak dini telah membaktikan hidupnya untuk dunia bisnis. Bisa jadi, mereka bahkan tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal. Sekolah mereka adalah dunia bisnis yang nyata.

Mereka bergerak dan mengoperasikan bisnis demi bisnis. Jika sebuah bisnis belum berjalan sesuai harapan, mereka tak akan segan meninggalkannya dan menerjuni dunia bisnis yang lain, sekalipun dunia bisnis baru itu masih cukup gelap bagi mereka.

Jika sebuah bisnis ternyata membawa kebangkrutan atau tidak berkembang, setelah merasa cukup berupaya menyelamatkannya, dan itu tidak dianggap berhasil, mereka tak akan segan-segan "membakar" kapal mereka. Mereka akan membangun kapal yang baru, dan segera mengarungi samudera kembali.

Slow Surfer

Mereka adalah para pebisnis yang meyakini peribahasa "sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit".

Mereka tidak ragu membangun bisnis yang dianggap orang lain kecil atau remeh. Mereka lebih berfokus pada pola pembelajaran. Mereka meyakini bahwa sekecil apapun itu, jika ditekuni pasti akan membawa hasil.

Revolusionist

Mereka adalah orang-orang yang sedikit banyak punya jiwa penjudi (dalam konteks positif tentu saja). Mereka meyakini yang satu ini: "Hanya diperlukan satu kesuksesan, untuk menciptakan rentetan kesuksesan sampai tujuh turunan".

Pelajarilah semua tipe di atas, refleksikan pada diri Anda. Jika Anda telah menemukan yang mana tipe Anda, maka mulailah melakukan modelling dengan konsep ATM. Amati, Tiru, Modifikasi.

Semua tipe-tipe entrepreneur di atas bukanlah harga mati. Sebab Anda, sangat mungkin menemukan dan mengembangkan tipe dan cara Anda sendiri, untuk menjadi pebisnis yang sejati.


Semoga bermanfaat.

Ikhwan Sopa - Master Trainer E.D.A.N.